Sekolah Ahlussunah Wal Jamaah dan bermazhab Syafi'i

Sabtu, 21 Maret 2015

UJIAN PRAKTEK TIK KELAS IX

UJIAN PRAKTEK TIK KELAS IX
SMP ISLAM PEKALONGAN
TAHUN PELAJARAN 2014/2015

  • Materi Ujian Praktek TIK Kelas IX

  1. Buatlah sebuah Blog sendiri (boleh yang sudah ada)
  2. Isilah Blog Kamu dengan konten Promosi/Iklan Sekolah kita SMP Ma’had Islam Pekalongan (bentuk promosi bebas : gambar sekolah / artikel / bahasa iklan)
  3. Buatlah di dalam blog kamu terdapat link/url ke blog www.smpmahadislam.blogspot.com
  4. Butlah blog kamu semenarik mungkin dengan desain yang bagus.


  • Penilaian Ujian Praktek TIK Kelas IX

  1. Konten / Isi blog yang sesuai
  2. Penggunaan Media (gambar / audio/ animasi / video / bahasa )
  3. Link ke Blog sekolah
  4. Desain blog
  5. Menu / Fasilitas didalam blog ( 3 menu : Home, Profil, Penerimaan Siswa Baru 2015 [PPDB])


III. Waktu Penilaian Ujian Praktek TIK
22 – 28 Maret 2015 

Rabu, 11 Maret 2015

STRUKTUR ORGANISASI SMP ISLAM PEKALONGAN

BAGAN STRUKTUR SEKOLAH
SMP ISLAM PEKALONGAN



1.         Nama Sekolah                                :   SMP ISLAM PEKALONGAN
2.         Nama Kepala Sekolah        :   Titik Purwaningsih, S.Pd
3.         No. Statistik Sekolah                      203036402007
4.         NPSN                                              :   20329542   
5.         Alamat Sekolah                              :   Jl. Dr. CIPTO 39 A PEKALONGAN TIMUR,  PEKALONGAN JAWA TENGAH
6.         Telepon/HP/Fax                             :   (0285) 423010
7.         Status Sekolah                                :   Swasta
8.         Nilai Akreditasi Sekolah              :   A  (94)
9.         Kepemilikan Tanah                       :   Pemerintah/  Yayasan  /Pribadi/Menyewa/Menumpang *)
Status Tanah                               :     SHM  /HGB/Hak Pakai/Akte Jual Beli/Hibah *)
Luas Lahan/Tanah                      :     4.387               m2
Luas Tanah Terbangun               :     3.014               m2
Luas Tanah Siap Bangun                         :     1.173               m2
Luas Lantai Atas Siap Bangun               :                           m2

Senin, 09 Maret 2015

Mars Ma'had Islam Pekalongan

Kamis, 05 Maret 2015

RAHASIA AIR HUJAN

OLEH : Abdul Mun'im Nadjmuddin
(Guru SMP Islam Pekalongan)

Pada buletin Ma’haduna kali ini, penulis merasa perlu untuk menyajikan gambaran mengenai air hujan. Karena inilah yang saat ini sedang dialami dan menjadi pembicaraan umum. Sekaligus agar menjadi pengingat, betapa turunnya hujan merupakan rahmat dari Allah swt. “Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya ("hujan"); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan "hujan" di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab angin itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (QS. al A’raf:57)
Pada kontek berbeda di banyak ayat al Qur’an Allah swt juga menggandengkan kata hujan dengan orang-orang yang berakal dan berilmu agar mampu memikirkan dan mentadabburi. “Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air"hujan" itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. an Nahl:11)
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air "hujan" dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.” (QS. ar Rum:24)
Bagi kita sebagai orang yang beriman tentu sudah sangat paham, betapa pun hujan itu turun tidak lain merupakan karunia yang patut disyukuri. Hujan gerimis atau lebat adalah sebuah rahmat Yang Maha Kuasa. Turun hujan pada pagi, siang atau pun malam merupakan karunia Sang Pencipta. Keimanan dan kesyukuran inilah yang patut kita jaga agar tidak ada celah bagi kekecewaan dan penyesalan yang menimbulkan sikap mengerutu. Sehingga muncul kalimat “diberi panas minta hujan, diberi hujan minta panas, diberi cuaca terang dengan hujan di kata hujan ketek (kera)”
Allah swt telah menyinggung bagi hambanya yang suka mengeluh dengan firman Nya: ” Innal insaana khuliqa ha luu ‘aa izaa massahusy syarru ja zuu’aa wa izaa massahul khairu manuu’aa ” artinya : sesunguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. (QS.al Ma’arij: 19-21)
Oleh karenanya penulis akan sedikit sadurkan tulisan Prof. Harun Yahya yang berjudul “Misteri Air Hujan”. Hujan yang sepertinya dianggap biasa dan sepele namun ternyata sangat mengagumkan. 

Kadar Hujan
Hujan dinyatakan sebagai air yang diturunkan dalam “ukuran tertentu”. Sebagaimana ayat di bawah ini: “Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (QS. az Zukhruf: 11)
“Kadar” yang disebutkan dalam ayat ini merupakan salah satu karakteristik hujan. Secara umum, jumlah hujan yang turun ke bumi selalu sama. Diperkirakan sebanyak 16 ton air di bumi menguap setiap detiknya. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi setiap detiknya. Hal ini menunjukkan bahwa hujan secara terus-menerus berputar seimbang menurut “ukuran” tertentu.
Pengukuran lain yang berkaitan dengan hujan adalah mengenai kecepatan turunnya hujan. Ketinggian minimum awan adalah sekitar 12.000 meter. Ketika turun dari ketinggian ini, sebuah benda yang yang memiliki berat dan ukuran sebesar tetesan hujan akan terus melaju 
dan jatuh menimpa tanah dengan kecepatan 558km/jam. Tentunya, objek apapun yang jatuh dengan kecepatan tersebut akan mengakibatkan kerusakan.
Dan apabila hujan turun dengan cara demikian, maka seluruh lahan tanaman akan hancur, pemukiman, perumahan, kendaraan akan mengalami kerusakan, dan orang-orang pun tidak dapat pergi keluar tanpa mengenakan alat perlindungan ekstra. Terlebih lagi, perhitungan ini dibuat untuk ketinggian 12.000 meter, faktanya terdapat awan yang memiliki ketinggian hanya sekitar 10.000 meter. Sebuah tetesan hujan yang jatuh pada ketinggian ini tentu saja akan jatuh pada kecepatan yang mampu merusak apa saja.
Namun tidak demikian kejadiannya, dari ketinggian berapapun hujan itu turun, kecepatan rata-ratanya hanya sekitar 8-10 km/jam ketika mencapai tanah. Hal ini disebabkan karena bentuk tetesan hujan yang sangat istimewa. Keistimewaan bentuk tetesan hujan ini meningkatkan efek gesekan atmosfer dan mempertahankan kelajuan tetesan-tetesan hujan ketika mencapai “batas” kecepatan tertentu.
Tak sebatas itu saja “pengukuran” tentang hujan. Contoh lain misalnya, pada lapisan atmosferis tempat terjadinya hujan, temperatur bisa saja turun hingga 400   C di bawah nol. Meskipun demikian, tetesan-tetesan hujan tidak berubah menjadi partikel es. (Hal ini tentunya merupakan ancaman mematikan bagi semua makhluk hidup di muka bumi.) Alasan tidak membekunya tetesan-tetesan hujan tersebut adalah karena air yang terkandung dalam atmosfer merupakan air murni. Sebagaimana kita ketahui, bahwa air murni hampir tidak membeku pada temperatur yang sangat rendah sekalipun.
Demikianlah sedikit ilmu tentang hujan. Dan masih banyak lagi mesteri air hujan yang belum terungkap. Oleh karena itu, berkenaan dengan turunnya hujan, baginda Rasulullah saw telah memberikan tauladan kepada kita bagaimana sikap dalam menghadapi hujan. Diantaranya:
Pertama: Takut datangnya adzab ketika mendung. Ketika muncul mendung, Nabi saw begitu khawatir,  jangan-jangan akan datang adzab dan kemurkaan Allah.”
Kedua: Turunnya hujan adalah kesempatan terbaik untuk memanjatkan do’a.
Nabi saw bersabda, Dua do’a yang tidak akan ditolak: (1) do’a ketika adzan dan (2) do’a ketika ketika turunnya hujan.” (HR. al Hakim dan al Baihaqi)
Ketiga: Berdo’a ketika hujan turun. ’Aisyah r.a. berkata, ”Nabi saw ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ”Allahumma shoyyiban nafi’an” (Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat)”. (HR. Bukhari)
Keempat: Berdo’a ketika hujan lebat. Ketika hujan turun begitu lebatnya, Rasulullah saw  memohon pada Allah agar cuaca kembali menjadi cerah dengan berdo’a, “Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turunkanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan).” (HR. Bukhari)
Kelima: Ketika mendengar suara petir berdoa dengan mengucapkan, “Subhanalladzi yusabbihur ro’du bi hamdihi wal mala-ikatu min khiifatih” (Mahasuci Allah yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memuji-Nya karena rasa takut kepada-Nya).”
Keenam: Ketika terjadi angin kencang dianjurkan untuk berdo’a. Rasulullah saw mengucapkan ketika itu, “Allahumma inni as-aluka khoirohaa wa khoiro maa fiihaa wa khoiro maa ursilat bihi, wa a’udzu bika min syarrihaa wa syarri maa fiiha wa syarri maa ursilat bihi (Ya Allah, Aku memohon kepada-Mu baiknya angin ini dan kebaikan yang ada padanya, dan aku memohon kebaikan dari yang diutus dengannya. Aku berlindung kepada-Mu dari buruknya angin ini, dan keburukan yang ada padanya dan aku berlindung dari keburukan yang diutus dengannya)” (HR. Muslim)
Ketujuh: Setelah turun hujan pun dianjurkan untuk berdoa, “Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish shawab.